Senin, 15 Agustus 2011

Taushiyah Jelang Ramadhan

Salah satu bentuk persiapan terbaik dalam rangka penyambutan istimewa bagi kehadiran bulan suci Ramadhan yang segera tiba, adalah dengan melakukan pembersihan hati dan penyucian jiwa (thath-hirul qalb wa tazkiyatun-nafs). Dan tobat merupakan salah satu wasilah (sarana) terbaik untuk tujuan itu. Karena mengapa hati perlu dibersihkan, dan jiwa harus disucikan, adalah karena hati dan jiwa itu kotor dan penuh noda. Dan yang mengotorinya adalah dosa-dosa (QS. Al-Muthaffifin:14). Sedangkan cara pembersihan hati dari noda-noda dosa, dan jalan penyucian jiwa dari kotoran-kotoran maksiat, adalah melalui tobat. 
Dalam sebuah hadits: "Jika seorang hamba melakukan suatu dosa, maka satu noktah (noda) hitampun langsung menempel di hatinya. Jika ia segera sadar, tobat dan beristighfar, maka hatinyapun menjadi bersih kembali. Adapun apabila ia malah menambah dengan dosa-dosa lain, maka akan bertambah pulalah noktah-noktah hitam itu, sampai (jika tetap tidak tobat) benar-benar menutupi seluruh hatinya…" (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan ain-lain). 

Oleh karena itu perintah, seruan dan anjuran untuk bertobat ini, tersebar di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): "Dan bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung dan berjaya" (QS. An-Nuur: 31). Di dalam ayat lain: “Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian kepada Allah dengan cara taubatan nashuha (tobat yang benar-benar murni dan tulus)…” (QS. At-Tahriim: 8).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Al-Bukhari). Dalam riwayat lain: "Wahai umat manusia, bertobatlah kepada Allah. Sungguh aku bertobat kepada Allah dalam sehari seratus kali" (HR. Muslim).
Tentu saja masih banyak lagi ayat dan hadits yang memerintahkan dan menganjurkan kita untuk bertobat, juga yang menjelaskan tentang beragamnya fadhilah dan keutamaan syariah tobat ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana cara bertobat? Apa itu taubatan nashuha? Bagaimana tobat dan istighfar yang disamping menghapuskan dosa, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, juga sekaligus benar-benar efektif untuk menutup jalan bagi terulangnya dosa-dosa itu lagi?
Karena tidak sedikit orang yang mengeluhkan kondisi diri dan hati mereka, serta menanyakan dan mempertanyakan, mengapa dosa-dosa masih saja selalu terulang lagi dan lagi? Padahal mereka merasa telah melakukan tobat darinya dan telah beristighfar sampai ratusan atau bahkan ribuan kali?. 

Yang perlu diperhatikan dan diingat disini bahwa, hal terpenting dalam pelaksanaan tobat dan istighfar itu, adalah sikap hati yang benar-benar jujur dan sungguh-sungguh dalam melakukan taubatan nashuha. Dimana secara totalitas kembali kepada Allah Ta’ala dengan upaya sepenuhnya menjalankan syarat-syarat dan konsekuensi tobat.
Nah, umumnya faktor penyebab tidak atau kurang efektifnya tobat sebagai penutup pintu terulangnya dosa-dosa, adalah karena kurangnya kesungguhan dan sikap totalitas hati ini dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi dari syarat2 tobat yang telah disebutkan oleh para ulama. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa, syarat tobat itu ada tiga: menyesali dosa yang telah diperbuat, meninggalkannya, dan berazam (bertekad) tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Adapun jika dosa dan kesalahan itu berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak sesama, maka ada satu lagi syarat tambahan, syarat keempat, yakni: menyelesaikan urusan dengan pihak yang haknya dilanggar itu. Namun disini kita hanya akan fokus pada tiga syarat pertama. Karena itulah inti dan esensi dari penunaian tobat.  

Selanjutnya, mungkin saja seseorang yang bertobat telah merasa memenuhi ketiga syarat utama tersebut.  Dan untuk membuktikan tobatnya, iapun telah memperbanyak istighfar, shalat, puasa, bacaan atau bahkan hafalan Al-Qur’an dan amal-amal saleh lainnya. Namun yang “aneh” mengapa semua itu seakan-akan tidak cukup mempan dan tidak efektif? Karena tidak lama berselang, ternyata dosa-dosa yang sama serasa begitu mudahnya kembali dan terulang lagi dan lagi?
Memang bukan merupakan syarat sahnya taubatan nashuha, bahwa dosa yang telah dilakukan tobat darinya itu harus dijamin tidak akan pernah terulang lagi. Demikian pula bukanlah itu maksud dari syarat ketiga diatas. Sehingga tetap saja ada kemungkinan terulangnya dosa tertentu suatu saat, meskipun sebenarnya sang pelaku telah pernah bertobat dengan taubatan nashuha. Dan hal itupun tidak membatalkan tobat yang telah dilakukan. Juga tidak selalu mengindikasikan bahwa tobatnya dulu itu bukan taubatan nashuha. 
Jadi sekali lagi, meskipun seseorang telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh sesuai dengan syarat-syaratnya, tetap tidak tertutup kemungkinan bagi terulangnya dosa yang sama sewaktu-waktu. Hanya saja sifatnya tetap sebagai pengecualian, sehingga kejadiannyapun juga jarang.

Namun yang kita bicarakan bukanlah tentang kondisi pengecualian ini. Melainkan seputar kondisi terulangnya dosa-dosa setelah dilakukan tobat, yang sifat dan terjadinya bisa dikatakan agak fenomenal, karena memang dialami oleh banyak pihak. Yakni – seperti yang digambarkan dimuka –  tentang tobat yang dilakukan dengan berbagai sarana pendukung dan pembuktiannya, tapi dirasa tidak begitu efektif untuk menghentikan tindak maksiat dan prilaku dosa. Ada apa gerangan? Apa yang salah atau kurang? Padahal ketiga syarat itu rasanya telah terpenuhi semuanya? 

Pertanyaan-pertanyaan barusan ini bagus. Karena upaya menjawabnya insya-allah akan menyingkap tabir “misteri”. Kaidahnya bahwa, tobat semestinya menciptakan perubahan signifikan dalam diri dan kehidupan seorang mukmin atau mukminah, melalui penghentian dosa dan maksiat. Sehingga ketika hal itu tidak terjadi, maka hampir bisa dipastikan bahwa, jelas “ada apa-apa” dengan tobat yang dilakukan. Dan meskipun benar bahwa, syarat-syarat tobat dirasa telah terpenuhi, namun jelas ada juga fakta benar lain. Yakni bahwa, hampir pasti masih ada yang salah dan yang kurang dalam pemenuhan masing-masing syarat tersebut. Dan kesalahan atau kekurangan itulah yang memang merupakan kendala utama tobat pada umumnya. Sehingga, karenanya, tobat terasa hambar, karena tidak dirasakan benar-benar merubah secara signifikan, atau serasa tidak “menggigit” dalam mencegah dan menghentikan maksiat dan dosa. Istighfar tidak henti dilantunkan, namun maksiat dan dosa juga tetap berlasung terus, hampir tanpa tercegah atau terhentikan oleh istighfar-istighfar itu (?!).  

Ya. Sekali lagi apa yang salah dan yang kurang dari pemenuhan syarat tobat tersebut? Yang salah atau yang kurang adalah tingkat kesungguhan dan kejujuran serta kadar totalitas dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi setiap syarat. Benar, Setiap syarat dari syarat-syarat tobat itu memiliki tuntutan dan konsekuensi, yang mesti dipenuhi untuk menjadikan tobat benar-benar sebagai taubatan nashuha, yang pasti akan langsung terasa pengaruh besarnya dalam penghentian maksiat dan dosa, serta perubahan signifikannya dalam diri dan prilaku yang bersangkutan.

Tuntutan dan konsekuensi dari syarat pertama yang berupa penyesalan atas dosa yang telah diperbuat, adalah bahwa penyesalan itu harus benar-benar terjadi dan muncul dari kesadaran keimanan berupa rasa takut dan malu kepada Allah. Bukan hanya karena takut akan akibat buruknya di dunia saja misalnya, atau hanya disebabkan oleh rasa malu kepada masyarakat semata. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya, adalah bahwa rasa penyesalan itu haruslah minimal setara dengan tingkat dan kadar dosa, atau bahkan lebih tinggi lagi, asalkan tidak sampai berlebihan. Ini yang umumnya kurang tersadari dengan baik, sehingga akibatnya kurang bisa terpenuhi secara memadai. Misalnya: seseorang yang berdosa dengan dosa besar, namun penyesalan yang mendasari upaya tobatnya hanya berlevel untuk dosa kecil saja. Sehingga logis jika tidak atau kurang efektif pengaruh dan hasil tobatnya untuk menghentikan dosa besar. Karena memang kurang atau tidak selevel. Ibaratnya seperti orang yang memiliki tanggungan hutang, yang ia akui dan sanggupi untuk membayarnya. Namun ternyata pengakuan dan kesanggupan pengembalian itu tetap tidak diterima oleh pihak pemberi hutang, dan sebaliknya justru membuatnya marah besar! Ya, bagaimana tidak marah? Lha wong yang diakui oleh yang bersangkutan hanya 1 juta saja misalnya, padahal sebenarnya hutangnya mencapai 100 juta!  
Sebagai tambahan gambaran tentang bagaimana seharusnya sikap dan rasa takut serta penyesalan seorang mukmin dan mukminah terhadap dosa, mari cermati dan renungkan ungkapan atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dimana beliau berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir (pendurhaka) maka dia melihat dosa-dosanya hanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini." Abu Syihab berkata, "Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya." … (lihat Shahih Al-Bukhari) 
Adapun tentang syarat kedua, yakni bahwa seorang yang tobat harus meninggalkan dosa yang telah atau sedang diperbuat, maka tuntutannya adalah harus bersemangat kuat dan bertekad bulat untuk benar-benar meninggalkan dosa dan maksiat itu. Jadi harus ada semangat kuat dan tekad bulat. Tidak cukup dengan sekadar keinginan begitu saja, apalagi jika hanya sebatas lintasan pikiran. Jadi ketika seseorang beristighfar dalam rangka tobat dari suatu dosa misalnya, sangat penting jika itu dilakukan sambil bermuhasabah dan bertanya pada diri sendiri misalnya: sudah penuh dan bulatkah tekadku untuk meninggalkan dosa dan maksiat itu? Karena meskipun seseorang telah banyak beristighfar, tapi jika semangatnya belum benar-benar kuat dan tekadnya belum bulat, maka tobatpun sangat mungkin akan tetap terkendala. Dan itu, tanpa tersadari, ternyata sering terjadi pada orang-orang yang bertobat.
Disamping itu, yang menjadi konsekuensi mendasar dari syarat kedua ini adalah, bahwa kejujuran tekad dalam meninggalkan suatu dosa juga harus dibuktikan dengan sebisanya meninggalkan, melepaskan, menjauhkan, atau membuang segala sesuatu, apapun bentuknya, yang berhubungan atau yang menyambungkan dengan dosa itu. Karena jika tidak, maka hal itupun akan menjadi bagian kendala penting bagi efektifnya tobat yang dilakukan. 

Sedangkan tuntutan dan konsekuensi dari syarat ketiga yang berupa azam (tekad kuat) untuk tidak mengulangi lagi dosa yang sama, adalah dengan upaya riil seoptimal mungkin untuk sebisanya menutup setiap pintu akses bagi kemungkinan terulangnya kembali dosa dan maksiat tersebut di masa mendatang. Nah, tidak sedikit kendala utama tobat itu juga berasal dari kekurangan dan kelemahan dalam memenuhi syarat ketiga ini. Dan bentuknya minimal dua. Pertama, kurang kuatnya keinginan sehingga tidak sampai pada derajat azam yang berarti semangat kuat dan tekad bulat. Dan kedua, ketidak seriusan atau kekurang sungguhan atau juga kelemahan dalam upaya menutup pintu akses dan peluang jalan, yang bisa memungkinkan terulangnya dosa-dosa itu lagi!

Akhirnya, sekali lagi Ramadhan sudah semakin dekat. Maka mari membersihkan hati dan menyucikan jiwa dengan taubatan nashuha. Syaratnya, pertama mari jujur menyesali dosa-dosa karena takut kepada Allah Ta’ala. Kedua, tinggalkanlah maksiat, buanglah dan jauhkanlah segala yang terkait dengannya. Ketiga, berazam benar-benar untuk tidak mengulangi lagi dengan bukti sebisanya selalu berupaya menutup akses untuk kembali kepada dosa-dosa itu lagi, dan lagi.. Keempat, juga jangan lupa istighfar sebanyak2nya, dan kelima, tak henti mengistimewakan amal selagi bisa. SEMOGA!!

(H. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA).

Berpuasa di Musim Panas

  • Berpuasa di musim panas di kalangan salaf dikenal dengan istilah Zama'ul Hawajir. Artinya rasa haus setelah pertengahan siang. 
  • Al-Baihaqi meriwayatkan dari Kitab Syu'abul Iman (3933) dari Qatadah, bahwa Amir bin Qais menangis saat menghadapi sakratul. Lalu ditanyakan kepadanya tentang sebab hal itu. Maka dia berkata,
مَا أَبْكِي جَزَعاً مِنَ الْمَوْتِ وَ لاَ حِرْصاً عَلَى الدُّنْيَا وَ لَكِنْ أَبْكِي عَلَى ظَمَأِ الْهَوَاجِرِ عَلىَ قِيَامِ الَّليْلِ فِي الشِّتَاءِ
"Aku menangis bukan karena takut kematian atau khawatir kehilangan dunia. Tapi aku menangisi zama'ul hawajir (berpuasa di musim panas) dan qiyamullail di musim dingin (yang akan aku tinggalkan)."
·      Dalam Mushanaf Abu Syaibah (57) diriwayatkan bahwa saat Ibnu Umar menderita sakit, dia berkata,
مَا تَرَكْتُ خَلْفِي شَيْئاً مِنَ الدُّنْيَا آسَى عَلَيْهِ غَيْرَ ظَمَأِ الْهَوَاجِرِ وَغَيْرَ مَشْيٍ إِلَى الصَّلاَةِ
"Tidak ada sesuatu yang sangat aku sayangkan untuk aku tinggalkan di dunia ini selain zama'ul hawajir (berpuasa di musim panas) dan berjalan menuju tempat shalat."
·      Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu biasanya berpuasa di musim panas dan berbuka di musim dingin.
·       Umar bin Khattab radhiallahu anhu saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya; Abdullah. Dia berkata, "Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan." Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama; "Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas."
·      Diriwayatkan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata, "Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya." Mereka ingin memberi isyarat bahwa mereka ingin bersungguh-sungguh melakukan suatu amal yang hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang karena beratnya amal tersebut sebagai wujud tingginya cita-cita mereka.
·      Suatu saat Abu Musa Al-Asy'ari berada dalam sebuah perahu. Tiba-tiba ada seseorang yang berseru kepadanya, 'Wahai penumpang perahu, berhentilah. Maukah aku beritahu kalian dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya?' Abu Musa berkata, 'Ya, beritahukan kami.' Dia berkata, 'Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri-Nya bahwa siapa yang membuat jiwanya kehausan (untuk berpuasa) karena Allah pada hari yang panas, maka wajib bagi Allah memberinya minum pada hari kiamat."
Maka sejak saat itu, Abu Musa selalu menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk berpuasa.
·         Suatu ketika Al-Hajjaj melakukan safar, lalu dia singgah di sebuah perkampungan antara Mekah dan Madinah. Kemudian dia mengundang orang-orang untuk makan siang bersamanya. Tiba-tiba dilihatnya seorang badui, maka diundangnya orang tersebut untuk makan siang bersamanya. Namun badui tersebut berkata,
"Aku sudah diundang oleh yang lebih mulia darimu, dan aku sudah terima undangannya.'
"Siapa dia?" kata Al-Hajjaj
"Allah Ta'ala. Dia mengundangku untuk berpuasa, maka aku berpuasa."
"Di hari yang sangat panas seperti ini?" Kata Al-Hajjaj tercengang.
"Ya, aku berpuasa untuk menghadapi hari yang lebih panas dari hari ini…"
·      Abu Darda berkata,
صُومُوا يَوْمًا شَدِيدًا حَرَّهُ لِحَرِّ يَوْمِ النُّشُورِ وَ صَلُّوا رَكْعَتَيْنِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ لِظُلْمَةِ الْقُبُورِ
"Berpuasalah pada hari yang sangat panas, untuk menghadapi hari kebangkitan, dan shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi gelapnya kubur."
·      Abu Darda berkata, "Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah saw di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah saw dan Abdullah bin Rawahah." (Muttafaq alaih).
Allahumma waffiqna bithaa'atika ….
Sumber:
-          Lathaiful Ma'arif; Ibnu Rajab Al-Hambali
-          Hilyatul Auliya; Abu Nu'aim Al-Ashbahani.
-          Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

Renungan Ramadhan

Alm. Ust. Rahmat Abdullah
http://www.islamedia.web.id/2011/08/renungan-ramadhan.html


"Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang."

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah
minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.


Kini dibulan ini (Ramadhan), ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.


Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.


Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)


Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”


Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.


Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.


Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.


Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa.
 "Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185)."

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.


Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?


Al Qur’an dulu baru yang lain


Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.


Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan
“Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzulul Qur’an di Hira, Nuzulul Qur’an di hati

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?


Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!
 

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin


Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.


Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.


Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.

Selasa, 09 Agustus 2011

Menyambut Ramadhan


Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.
Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.
Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan” :
  1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadanYa Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
  2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.
  3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiapkali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
  4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.
  5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” QS. Muhammad:21.
  6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.
  7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pembersihan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.
  8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam 

Jumat, 05 Agustus 2011

My Friends Halaqoh

Hari itu aku mau rekreasi dengan teman-teman Halaqoh.. Sebenarnya ingin ke Pantai yang ada di Gresik..
Tapi ternyata,, gak jadi nih.. Jadinya ke Pantai yang di Madura.. Naik mobilnya Kholisah.. Disana ombaknya besar banget deh.. Aku senang banget.. Sampai-sampai ingin kesana lagi deh!! Hehe.. :)
Meskipun berangkatnya siang,, tapi pengunjungnya hanya sedikit..

Coba tebak teman-teman.. Ini aku foto dimana??


Aku ini foto di Pantai Siring Kemuning, Bangkalan.


Hari mulai beranjak siang.. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Bangkalan.. Sesampainya, Kami langsung sholat berjama'ah.. Kami semua langsung sholat Dhuhur dan Ashar disana, dengan di jama'.. Setelah selesai sholat, Kami mulai melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan yang dekat dengan Stadion.. Aku dan teman-teman milihnya sama semua.. Yaitu: Nasi Bebek.. Kami memilih minuman yang berbeda.. Ada yang Es Jeruk.. Dan ada yang Es Teh..
Hmmm... Rasanya enak banget.. Habis main air di pantai, langsung minum es.. SEGEEERRRRR!!!!.. Setelah kami semua selesai menyantap hidangannya masing-masing.. Kami mulai naik mobil, dan menuju Jembatan Suramadu.. Sebelum sampai di Jembatan Suramadu, Kami berhenti di dekat jembatan untuk membeli oleh-oleh.. Aku membeli gantungan kunci yang harganya Rp10.000 dapat 3.. Terus,, Gelang yang harganya Rp10.000 dapat 3.. Yang dapat hanya Aku, Mb. Maritsa, Mb. Huwayna.. Selesai membeli, Kami semua pun pulang ke rumahnya Kholisah.. Menjelang maghrib,, Aku dijemput Ibu pulang ke rumah..


ALHAMDULILLAH!!! :)

Senin, 01 Agustus 2011

Hubungan Makanan & Tumbuhan

Bahan Makanan yang diperlukan oleh Tubuh:
1.  Karbohidrat (Zat Hidrat Arang)
     Fungsi: Sumber tenaga (Penghasil Kalori), Mempertahankan suhu tubuh, dan Sebagai Makanan cadangan.
     Contoh: Beras, Jagung, Gandum, Singkong, Kentang, Ubi, Sagu, dan Roti.
2.  Protein (Hewani: Dari hewan, Nabati: Dari Tumbuhan)
     Fungsi: Menghasilkan Kalori (1gram protein mengandung kira-kira 4,1 kalori), Menyeimbangkan cairan dalam tubuh.
     Contoh: Ikan, Udang, Daging, Telur, Susu, Tempe, Tahu, Buncis, Kacang hijau, Kapri.
3.  Lemak (Hewani: Dari Hewan, Nabati: Dari Tumbuhan)
     Fungsi: Menghasilkan Kalori (1gram lemak menghasilkan 9,3 kalori), Melarutkan Vitamin (A, D, E, K), Pelindung tubuh dari kedinginan dan luka, Menghaluskan kulit, dan Sebagai Makanan cadangan.
     Contoh: Kacang Tanah, Avokad, Minyak Kelapa Sawit, Kemiri, Gajih (Daging), Keju, Susu, Mentega, dan Minyak Ikan.
4.  Air
     Fungsi: Melarutkan dan Mengangkut zat-zat makanan serta Menjaga Keseimbangan Tubuh.
5.  Vitamin
     Fungsi: dibutuhkan oleh Tubuh Manusia.
     Vitamin -Larut air: B, C.  -Larut lemak: A, D, E, K.
     Avitaminosis= Kekurangan vitamin dalam tubuh.
     Gigantisme= Pertumbuhannya terlalu besar.
6.  Mineral
     Dibutuhkan dalam jumlah -Banyak: Natrium, Kalium, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Klor, dan Belerang.
                                          -Sedikit: Mangan, Fluor, Yodium, dan Kobalt.
    

Taushiyah Jelang Ramadhan

Salah satu bentuk persiapan terbaik dalam rangka penyambutan istimewa bagi kehadiran bulan suci Ramadhan yang segera tiba, adalah dengan melakukan pembersihan hati dan penyucian jiwa (thath-hirul qalb wa tazkiyatun-nafs). Dan tobat merupakan salah satu wasilah (sarana) terbaik untuk tujuan itu. Karena mengapa hati perlu dibersihkan, dan jiwa harus disucikan, adalah karena hati dan jiwa itu kotor dan penuh noda. Dan yang mengotorinya adalah dosa-dosa (QS. Al-Muthaffifin:14). Sedangkan cara pembersihan hati dari noda-noda dosa, dan jalan penyucian jiwa dari kotoran-kotoran maksiat, adalah melalui tobat. 
Dalam sebuah hadits: "Jika seorang hamba melakukan suatu dosa, maka satu noktah (noda) hitampun langsung menempel di hatinya. Jika ia segera sadar, tobat dan beristighfar, maka hatinyapun menjadi bersih kembali. Adapun apabila ia malah menambah dengan dosa-dosa lain, maka akan bertambah pulalah noktah-noktah hitam itu, sampai (jika tetap tidak tobat) benar-benar menutupi seluruh hatinya…" (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan ain-lain). 

Oleh karena itu perintah, seruan dan anjuran untuk bertobat ini, tersebar di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): "Dan bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung dan berjaya" (QS. An-Nuur: 31). Di dalam ayat lain: “Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian kepada Allah dengan cara taubatan nashuha (tobat yang benar-benar murni dan tulus)…” (QS. At-Tahriim: 8).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Al-Bukhari). Dalam riwayat lain: "Wahai umat manusia, bertobatlah kepada Allah. Sungguh aku bertobat kepada Allah dalam sehari seratus kali" (HR. Muslim).
Tentu saja masih banyak lagi ayat dan hadits yang memerintahkan dan menganjurkan kita untuk bertobat, juga yang menjelaskan tentang beragamnya fadhilah dan keutamaan syariah tobat ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana cara bertobat? Apa itu taubatan nashuha? Bagaimana tobat dan istighfar yang disamping menghapuskan dosa, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, juga sekaligus benar-benar efektif untuk menutup jalan bagi terulangnya dosa-dosa itu lagi?
Karena tidak sedikit orang yang mengeluhkan kondisi diri dan hati mereka, serta menanyakan dan mempertanyakan, mengapa dosa-dosa masih saja selalu terulang lagi dan lagi? Padahal mereka merasa telah melakukan tobat darinya dan telah beristighfar sampai ratusan atau bahkan ribuan kali?. 

Yang perlu diperhatikan dan diingat disini bahwa, hal terpenting dalam pelaksanaan tobat dan istighfar itu, adalah sikap hati yang benar-benar jujur dan sungguh-sungguh dalam melakukan taubatan nashuha. Dimana secara totalitas kembali kepada Allah Ta’ala dengan upaya sepenuhnya menjalankan syarat-syarat dan konsekuensi tobat.
Nah, umumnya faktor penyebab tidak atau kurang efektifnya tobat sebagai penutup pintu terulangnya dosa-dosa, adalah karena kurangnya kesungguhan dan sikap totalitas hati ini dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi dari syarat2 tobat yang telah disebutkan oleh para ulama. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa, syarat tobat itu ada tiga: menyesali dosa yang telah diperbuat, meninggalkannya, dan berazam (bertekad) tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Adapun jika dosa dan kesalahan itu berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak sesama, maka ada satu lagi syarat tambahan, syarat keempat, yakni: menyelesaikan urusan dengan pihak yang haknya dilanggar itu. Namun disini kita hanya akan fokus pada tiga syarat pertama. Karena itulah inti dan esensi dari penunaian tobat.  

Selanjutnya, mungkin saja seseorang yang bertobat telah merasa memenuhi ketiga syarat utama tersebut.  Dan untuk membuktikan tobatnya, iapun telah memperbanyak istighfar, shalat, puasa, bacaan atau bahkan hafalan Al-Qur’an dan amal-amal saleh lainnya. Namun yang “aneh” mengapa semua itu seakan-akan tidak cukup mempan dan tidak efektif? Karena tidak lama berselang, ternyata dosa-dosa yang sama serasa begitu mudahnya kembali dan terulang lagi dan lagi?
Memang bukan merupakan syarat sahnya taubatan nashuha, bahwa dosa yang telah dilakukan tobat darinya itu harus dijamin tidak akan pernah terulang lagi. Demikian pula bukanlah itu maksud dari syarat ketiga diatas. Sehingga tetap saja ada kemungkinan terulangnya dosa tertentu suatu saat, meskipun sebenarnya sang pelaku telah pernah bertobat dengan taubatan nashuha. Dan hal itupun tidak membatalkan tobat yang telah dilakukan. Juga tidak selalu mengindikasikan bahwa tobatnya dulu itu bukan taubatan nashuha. 
Jadi sekali lagi, meskipun seseorang telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh sesuai dengan syarat-syaratnya, tetap tidak tertutup kemungkinan bagi terulangnya dosa yang sama sewaktu-waktu. Hanya saja sifatnya tetap sebagai pengecualian, sehingga kejadiannyapun juga jarang.

Namun yang kita bicarakan bukanlah tentang kondisi pengecualian ini. Melainkan seputar kondisi terulangnya dosa-dosa setelah dilakukan tobat, yang sifat dan terjadinya bisa dikatakan agak fenomenal, karena memang dialami oleh banyak pihak. Yakni – seperti yang digambarkan dimuka –  tentang tobat yang dilakukan dengan berbagai sarana pendukung dan pembuktiannya, tapi dirasa tidak begitu efektif untuk menghentikan tindak maksiat dan prilaku dosa. Ada apa gerangan? Apa yang salah atau kurang? Padahal ketiga syarat itu rasanya telah terpenuhi semuanya? 

Pertanyaan-pertanyaan barusan ini bagus. Karena upaya menjawabnya insya-allah akan menyingkap tabir “misteri”. Kaidahnya bahwa, tobat semestinya menciptakan perubahan signifikan dalam diri dan kehidupan seorang mukmin atau mukminah, melalui penghentian dosa dan maksiat. Sehingga ketika hal itu tidak terjadi, maka hampir bisa dipastikan bahwa, jelas “ada apa-apa” dengan tobat yang dilakukan. Dan meskipun benar bahwa, syarat-syarat tobat dirasa telah terpenuhi, namun jelas ada juga fakta benar lain. Yakni bahwa, hampir pasti masih ada yang salah dan yang kurang dalam pemenuhan masing-masing syarat tersebut. Dan kesalahan atau kekurangan itulah yang memang merupakan kendala utama tobat pada umumnya. Sehingga, karenanya, tobat terasa hambar, karena tidak dirasakan benar-benar merubah secara signifikan, atau serasa tidak “menggigit” dalam mencegah dan menghentikan maksiat dan dosa. Istighfar tidak henti dilantunkan, namun maksiat dan dosa juga tetap berlasung terus, hampir tanpa tercegah atau terhentikan oleh istighfar-istighfar itu (?!).  

Ya. Sekali lagi apa yang salah dan yang kurang dari pemenuhan syarat tobat tersebut? Yang salah atau yang kurang adalah tingkat kesungguhan dan kejujuran serta kadar totalitas dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi setiap syarat. Benar, Setiap syarat dari syarat-syarat tobat itu memiliki tuntutan dan konsekuensi, yang mesti dipenuhi untuk menjadikan tobat benar-benar sebagai taubatan nashuha, yang pasti akan langsung terasa pengaruh besarnya dalam penghentian maksiat dan dosa, serta perubahan signifikannya dalam diri dan prilaku yang bersangkutan.

Tuntutan dan konsekuensi dari syarat pertama yang berupa penyesalan atas dosa yang telah diperbuat, adalah bahwa penyesalan itu harus benar-benar terjadi dan muncul dari kesadaran keimanan berupa rasa takut dan malu kepada Allah. Bukan hanya karena takut akan akibat buruknya di dunia saja misalnya, atau hanya disebabkan oleh rasa malu kepada masyarakat semata. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya, adalah bahwa rasa penyesalan itu haruslah minimal setara dengan tingkat dan kadar dosa, atau bahkan lebih tinggi lagi, asalkan tidak sampai berlebihan. Ini yang umumnya kurang tersadari dengan baik, sehingga akibatnya kurang bisa terpenuhi secara memadai. Misalnya: seseorang yang berdosa dengan dosa besar, namun penyesalan yang mendasari upaya tobatnya hanya berlevel untuk dosa kecil saja. Sehingga logis jika tidak atau kurang efektif pengaruh dan hasil tobatnya untuk menghentikan dosa besar. Karena memang kurang atau tidak selevel. Ibaratnya seperti orang yang memiliki tanggungan hutang, yang ia akui dan sanggupi untuk membayarnya. Namun ternyata pengakuan dan kesanggupan pengembalian itu tetap tidak diterima oleh pihak pemberi hutang, dan sebaliknya justru membuatnya marah besar! Ya, bagaimana tidak marah? Lha wong yang diakui oleh yang bersangkutan hanya 1 juta saja misalnya, padahal sebenarnya hutangnya mencapai 100 juta!  
Sebagai tambahan gambaran tentang bagaimana seharusnya sikap dan rasa takut serta penyesalan seorang mukmin dan mukminah terhadap dosa, mari cermati dan renungkan ungkapan atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dimana beliau berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir (pendurhaka) maka dia melihat dosa-dosanya hanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini." Abu Syihab berkata, "Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya." … (lihat Shahih Al-Bukhari) 
Adapun tentang syarat kedua, yakni bahwa seorang yang tobat harus meninggalkan dosa yang telah atau sedang diperbuat, maka tuntutannya adalah harus bersemangat kuat dan bertekad bulat untuk benar-benar meninggalkan dosa dan maksiat itu. Jadi harus ada semangat kuat dan tekad bulat. Tidak cukup dengan sekadar keinginan begitu saja, apalagi jika hanya sebatas lintasan pikiran. Jadi ketika seseorang beristighfar dalam rangka tobat dari suatu dosa misalnya, sangat penting jika itu dilakukan sambil bermuhasabah dan bertanya pada diri sendiri misalnya: sudah penuh dan bulatkah tekadku untuk meninggalkan dosa dan maksiat itu? Karena meskipun seseorang telah banyak beristighfar, tapi jika semangatnya belum benar-benar kuat dan tekadnya belum bulat, maka tobatpun sangat mungkin akan tetap terkendala. Dan itu, tanpa tersadari, ternyata sering terjadi pada orang-orang yang bertobat.
Disamping itu, yang menjadi konsekuensi mendasar dari syarat kedua ini adalah, bahwa kejujuran tekad dalam meninggalkan suatu dosa juga harus dibuktikan dengan sebisanya meninggalkan, melepaskan, menjauhkan, atau membuang segala sesuatu, apapun bentuknya, yang berhubungan atau yang menyambungkan dengan dosa itu. Karena jika tidak, maka hal itupun akan menjadi bagian kendala penting bagi efektifnya tobat yang dilakukan. 

Sedangkan tuntutan dan konsekuensi dari syarat ketiga yang berupa azam (tekad kuat) untuk tidak mengulangi lagi dosa yang sama, adalah dengan upaya riil seoptimal mungkin untuk sebisanya menutup setiap pintu akses bagi kemungkinan terulangnya kembali dosa dan maksiat tersebut di masa mendatang. Nah, tidak sedikit kendala utama tobat itu juga berasal dari kekurangan dan kelemahan dalam memenuhi syarat ketiga ini. Dan bentuknya minimal dua. Pertama, kurang kuatnya keinginan sehingga tidak sampai pada derajat azam yang berarti semangat kuat dan tekad bulat. Dan kedua, ketidak seriusan atau kekurang sungguhan atau juga kelemahan dalam upaya menutup pintu akses dan peluang jalan, yang bisa memungkinkan terulangnya dosa-dosa itu lagi!

Akhirnya, sekali lagi Ramadhan sudah semakin dekat. Maka mari membersihkan hati dan menyucikan jiwa dengan taubatan nashuha. Syaratnya, pertama mari jujur menyesali dosa-dosa karena takut kepada Allah Ta’ala. Kedua, tinggalkanlah maksiat, buanglah dan jauhkanlah segala yang terkait dengannya. Ketiga, berazam benar-benar untuk tidak mengulangi lagi dengan bukti sebisanya selalu berupaya menutup akses untuk kembali kepada dosa-dosa itu lagi, dan lagi.. Keempat, juga jangan lupa istighfar sebanyak2nya, dan kelima, tak henti mengistimewakan amal selagi bisa. SEMOGA!!

(H. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA).

Berpuasa di Musim Panas

  • Berpuasa di musim panas di kalangan salaf dikenal dengan istilah Zama'ul Hawajir. Artinya rasa haus setelah pertengahan siang. 
  • Al-Baihaqi meriwayatkan dari Kitab Syu'abul Iman (3933) dari Qatadah, bahwa Amir bin Qais menangis saat menghadapi sakratul. Lalu ditanyakan kepadanya tentang sebab hal itu. Maka dia berkata,
مَا أَبْكِي جَزَعاً مِنَ الْمَوْتِ وَ لاَ حِرْصاً عَلَى الدُّنْيَا وَ لَكِنْ أَبْكِي عَلَى ظَمَأِ الْهَوَاجِرِ عَلىَ قِيَامِ الَّليْلِ فِي الشِّتَاءِ
"Aku menangis bukan karena takut kematian atau khawatir kehilangan dunia. Tapi aku menangisi zama'ul hawajir (berpuasa di musim panas) dan qiyamullail di musim dingin (yang akan aku tinggalkan)."
·      Dalam Mushanaf Abu Syaibah (57) diriwayatkan bahwa saat Ibnu Umar menderita sakit, dia berkata,
مَا تَرَكْتُ خَلْفِي شَيْئاً مِنَ الدُّنْيَا آسَى عَلَيْهِ غَيْرَ ظَمَأِ الْهَوَاجِرِ وَغَيْرَ مَشْيٍ إِلَى الصَّلاَةِ
"Tidak ada sesuatu yang sangat aku sayangkan untuk aku tinggalkan di dunia ini selain zama'ul hawajir (berpuasa di musim panas) dan berjalan menuju tempat shalat."
·      Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu biasanya berpuasa di musim panas dan berbuka di musim dingin.
·       Umar bin Khattab radhiallahu anhu saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya; Abdullah. Dia berkata, "Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan." Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama; "Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas."
·      Diriwayatkan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata, "Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya." Mereka ingin memberi isyarat bahwa mereka ingin bersungguh-sungguh melakukan suatu amal yang hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang karena beratnya amal tersebut sebagai wujud tingginya cita-cita mereka.
·      Suatu saat Abu Musa Al-Asy'ari berada dalam sebuah perahu. Tiba-tiba ada seseorang yang berseru kepadanya, 'Wahai penumpang perahu, berhentilah. Maukah aku beritahu kalian dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya?' Abu Musa berkata, 'Ya, beritahukan kami.' Dia berkata, 'Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri-Nya bahwa siapa yang membuat jiwanya kehausan (untuk berpuasa) karena Allah pada hari yang panas, maka wajib bagi Allah memberinya minum pada hari kiamat."
Maka sejak saat itu, Abu Musa selalu menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk berpuasa.
·         Suatu ketika Al-Hajjaj melakukan safar, lalu dia singgah di sebuah perkampungan antara Mekah dan Madinah. Kemudian dia mengundang orang-orang untuk makan siang bersamanya. Tiba-tiba dilihatnya seorang badui, maka diundangnya orang tersebut untuk makan siang bersamanya. Namun badui tersebut berkata,
"Aku sudah diundang oleh yang lebih mulia darimu, dan aku sudah terima undangannya.'
"Siapa dia?" kata Al-Hajjaj
"Allah Ta'ala. Dia mengundangku untuk berpuasa, maka aku berpuasa."
"Di hari yang sangat panas seperti ini?" Kata Al-Hajjaj tercengang.
"Ya, aku berpuasa untuk menghadapi hari yang lebih panas dari hari ini…"
·      Abu Darda berkata,
صُومُوا يَوْمًا شَدِيدًا حَرَّهُ لِحَرِّ يَوْمِ النُّشُورِ وَ صَلُّوا رَكْعَتَيْنِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ لِظُلْمَةِ الْقُبُورِ
"Berpuasalah pada hari yang sangat panas, untuk menghadapi hari kebangkitan, dan shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi gelapnya kubur."
·      Abu Darda berkata, "Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah saw di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah saw dan Abdullah bin Rawahah." (Muttafaq alaih).
Allahumma waffiqna bithaa'atika ….
Sumber:
-          Lathaiful Ma'arif; Ibnu Rajab Al-Hambali
-          Hilyatul Auliya; Abu Nu'aim Al-Ashbahani.
-          Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

Renungan Ramadhan

Alm. Ust. Rahmat Abdullah
http://www.islamedia.web.id/2011/08/renungan-ramadhan.html


"Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang."

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah
minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.


Kini dibulan ini (Ramadhan), ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.


Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.


Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)


Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”


Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.


Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.


Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.


Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa.
 "Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185)."

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.


Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?


Al Qur’an dulu baru yang lain


Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.


Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan
“Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzulul Qur’an di Hira, Nuzulul Qur’an di hati

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?


Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!
 

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin


Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.


Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.


Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.

Menyambut Ramadhan


Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.
Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.
Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan” :
  1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadanYa Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
  2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.
  3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiapkali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
  4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.
  5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” QS. Muhammad:21.
  6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.
  7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pembersihan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.
  8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam 

My Friends Halaqoh

Hari itu aku mau rekreasi dengan teman-teman Halaqoh.. Sebenarnya ingin ke Pantai yang ada di Gresik..
Tapi ternyata,, gak jadi nih.. Jadinya ke Pantai yang di Madura.. Naik mobilnya Kholisah.. Disana ombaknya besar banget deh.. Aku senang banget.. Sampai-sampai ingin kesana lagi deh!! Hehe.. :)
Meskipun berangkatnya siang,, tapi pengunjungnya hanya sedikit..

Coba tebak teman-teman.. Ini aku foto dimana??


Aku ini foto di Pantai Siring Kemuning, Bangkalan.


Hari mulai beranjak siang.. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Bangkalan.. Sesampainya, Kami langsung sholat berjama'ah.. Kami semua langsung sholat Dhuhur dan Ashar disana, dengan di jama'.. Setelah selesai sholat, Kami mulai melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan yang dekat dengan Stadion.. Aku dan teman-teman milihnya sama semua.. Yaitu: Nasi Bebek.. Kami memilih minuman yang berbeda.. Ada yang Es Jeruk.. Dan ada yang Es Teh..
Hmmm... Rasanya enak banget.. Habis main air di pantai, langsung minum es.. SEGEEERRRRR!!!!.. Setelah kami semua selesai menyantap hidangannya masing-masing.. Kami mulai naik mobil, dan menuju Jembatan Suramadu.. Sebelum sampai di Jembatan Suramadu, Kami berhenti di dekat jembatan untuk membeli oleh-oleh.. Aku membeli gantungan kunci yang harganya Rp10.000 dapat 3.. Terus,, Gelang yang harganya Rp10.000 dapat 3.. Yang dapat hanya Aku, Mb. Maritsa, Mb. Huwayna.. Selesai membeli, Kami semua pun pulang ke rumahnya Kholisah.. Menjelang maghrib,, Aku dijemput Ibu pulang ke rumah..


ALHAMDULILLAH!!! :)

Hubungan Makanan & Tumbuhan

Bahan Makanan yang diperlukan oleh Tubuh:
1.  Karbohidrat (Zat Hidrat Arang)
     Fungsi: Sumber tenaga (Penghasil Kalori), Mempertahankan suhu tubuh, dan Sebagai Makanan cadangan.
     Contoh: Beras, Jagung, Gandum, Singkong, Kentang, Ubi, Sagu, dan Roti.
2.  Protein (Hewani: Dari hewan, Nabati: Dari Tumbuhan)
     Fungsi: Menghasilkan Kalori (1gram protein mengandung kira-kira 4,1 kalori), Menyeimbangkan cairan dalam tubuh.
     Contoh: Ikan, Udang, Daging, Telur, Susu, Tempe, Tahu, Buncis, Kacang hijau, Kapri.
3.  Lemak (Hewani: Dari Hewan, Nabati: Dari Tumbuhan)
     Fungsi: Menghasilkan Kalori (1gram lemak menghasilkan 9,3 kalori), Melarutkan Vitamin (A, D, E, K), Pelindung tubuh dari kedinginan dan luka, Menghaluskan kulit, dan Sebagai Makanan cadangan.
     Contoh: Kacang Tanah, Avokad, Minyak Kelapa Sawit, Kemiri, Gajih (Daging), Keju, Susu, Mentega, dan Minyak Ikan.
4.  Air
     Fungsi: Melarutkan dan Mengangkut zat-zat makanan serta Menjaga Keseimbangan Tubuh.
5.  Vitamin
     Fungsi: dibutuhkan oleh Tubuh Manusia.
     Vitamin -Larut air: B, C.  -Larut lemak: A, D, E, K.
     Avitaminosis= Kekurangan vitamin dalam tubuh.
     Gigantisme= Pertumbuhannya terlalu besar.
6.  Mineral
     Dibutuhkan dalam jumlah -Banyak: Natrium, Kalium, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Klor, dan Belerang.
                                          -Sedikit: Mangan, Fluor, Yodium, dan Kobalt.